Di Indonesia banyak pahlawan nasional yang sudah di akui di negara kita karena jasa-jasanya melinduadana ngi dan membela negara kita serta berjuang demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Sebagai warga yang baik, kita tidak boleh melupakan jasa-jasa mereka para pahlawan yang sudah menjadikan negara kita menjadi negara merdeka. Apalagi seorang pelajar yang di sekolahnya mempelajari tentang pendidika kewarganegaraan pastinya para guru di sekolah mengajarkan kepada murid-muridnya untuk menghargai jasa para pahlawan.

Meski demikian, ada saja sebagian dari kita melupakan para pahlawan yang berjuang mati-matian untuk negara ini. Meskipun jasanya begitu besar terhadap negara ini tapi beliau masih saja terlupakan. Salah satunya adalah Tan Malaka yang sebenarnya memiliki jasa sangat besar dalam kemerdekaan negara Indonesia. Karena bisa dikatakan bahwa beliaulah yang pertama kali berjuang menentang antikolonialisme di negeri ini. Bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925) mencetuskan tentang konsep “Negara Indonesia” dan buku ini pulalah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan bapak bangsa lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan seorang pahlawan ini dilakukan dengan menulis sebuah buku, membentuk kesatuan masa, bicara dalam kongres internasional, dan bahkan ikut bertempur di medan perang melawan Belanda. Dengan melakukan kegiatan seperti ini, namanya cukup terkenal di Belanda sehingga beliau harus di penjara beberapa kali, di buru interpol bahkan di kejar-kejar polis Internasional.

Baca Juga  Belajar Sejarah Sambil Berwisata!

Sosok seorang Tan Malaka itu orangnya yang sangat benci ketidakadilan dan beliau sangat peduli terhadap penderitaan para buruh. Dengan demikian beliau aktif dalam organisasi ISDV yang kemudian berubah menjadi PKH atau Partai Komunis Hindia, tentang organisasi yang menentang segala hal yang menyusahkan para buruh.

Tan Malaka pernah ditangkap dan dibuang ke Belanda ketika Tan Malaka meiliki kesempatan memimpin PKH, Tan Malaka yang memang lebih frontal dengan teran-terangan menentang Belanda dan membantu melawan penindasan terhadap pekerja.

Ketika Tan Malaka sudah kembali ke tanah airnya dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata Indonesia belum benar-benar bebas dari Belanda. Lalu Tan Malaka merasa para pemimpin negara yang baru ini, yaitu Soekarno, Hatta, dan Sjahrir terlalu lemah menghadapi Belanda yang berusaha terus-terusan ingin menguasai Indonesia sepenuhnya. Bagi Tan Malaka, ketika kemerdekaan dengan adanya proklamasi itu sudah sepenuhnya negara itu merdeka, sehingga tidak perlu lagi untuk mengadakan perundingan. Apalagi dengan perjanjian-perjanjian seperti Linggarjati dan Renville justru merugikan Indonesia nantinya.

Tan Malaka terus berkeliling dan berjuang mengusi para penjajah Belanda yang mencoba menyusup kembali ke Indonesia. Lalu ia mendirikan perkumpulan masyarakat yang beranggotakan masyarakat yang kecewa terhadap pemerintahan Indonesia yang sekarang yang lebih memilih jalur perundingan, padahal masyarakat menilai negara Indonesia ini sudah merdeka sepenuhnya. Pemerintan merasa kerepotan dengan ulah Tan Malaka berserta anggotanya sehinnga pemerintah menangkap dan memenjarakannya.

Baca Juga  Belajar Sejarah Sambil Berwisata!

Setelah keluar dari penjara, ternyata apa yang ia khawatirkan tentang hasil perundingan tersebut benar-benar terjadi dengan isi perjanjian Renville yang hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatera sebagai wilayah Republik Indonesia. Tidak mau menyerah, ia tetap berjuang dan ikut menghimpun kekuatan di Jawa Timur untuk menghadapi Agresi Militer II. Perjuangan dan himbauannya untuk menentang Belanda berhasil membakar semangat para pejuang, tapi oleh pemerintah ia justru dianggap pemberontak berbahaya. Sehingga sejak saat itu pula Tan Malaka diburu dan akhirnya di tembak oleh Tentara Nasional Indonesia di Kediri, Jawa Timur pada 19 Februari 1949.

28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat nama Tan Malaka sebagai pahlawan nasional Indonesia. Namun 3 tahun kemudian, setelah Soekarno turun dari jabatan presiden nama Tan Malaka kembali hilang dan tidak pernah terdengar lagi, barulah beberapa waktu lalu kisah tentang pahlawan yang satu ini kembali diceritakan.

Kita pastilah merasa sulit bagaimana membayangkan pada masa penjajahan. Pemerintahan memilih jalur perundingan, tapi Tan Malaka memilih mengusir para apenjajah tanpa kompromi. Meskipun berbeda pendapat dari pemerintahan Indonesia dan Tan Malaka keduanya memiliki sisi yang sama-sama berjuang untuk meraih kemerdekaan meski dengan taktik yang berbeda. Yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap menghargai perjuangan para pahlawan ini yang berani mengorbankan nyawa untuk kemerdekaan Indonesia.

- Advertisement -