Hajatan Piala Dunia, bisa dikatakan hajatan olahraga paling akbar di muka bumi. Hajatan yang paling ditunggu para penggila bola.  Di ajang ini, gengsi, adu gocek, emosi, serta fanatisme berkelindan jadi satu. Ini ajang, ketika penggila bola disodorkan atraksi dahsyat tim nasional pilihan dan talenta-talenta hebat lapangan hijau.

Tapi dalam setiap hajatan, tak melulu menampilkan kehebatan. Kerapkali terselip aksi yang menodai perhelatan. Walau setitik, tapi karena itu nila, tetap saja merusak belanga pertandingan. Pun dalam pesta Piala Dunia. Padahal dalam sepakbola, fair play adalah harga mati. Bermain curang demi sebuah kemenangan haram hukumnya.  Diving atau aksi menjatuhkan diri di kotak pertahanan lawan demi mendapat tendangan pinalti misal,  adalah pelanggaran berat. Tak ada ampun, kartu merah ganjarannya.

Tapi, meski fair play dijunjung tinggi, tetap saja selalu ada pemain yang berbuat curang. Dan sejarah Piala Dunia beberapa kali mencatat aksi lancung yang menodai spirit fair play. Aksi yang menodai pesta akbar penggila bola. Seperti yang terjadi menjelang dihelatnya Piala Dunia 1990 di Italia.

Buku, ” Football Villains: Kisah Seru 18 ‘Penjahat’ Paling Dimusuhi dalam Sejarah Piala Dunia,” yang ditulis Owen A. McBall merekam dengan detil aksi yang menodai perhelatan akbar penggila bola tersebut. Salah satunya adalah kisah culas Roberto Rojas.

Roberto Rojas, adalah salah satu kiper terbaik yang pernah dimiliki tim nasional Chili era 80-an. Tapi karena aksi curangnya, Rojas pun dicatat dengan tinta hitam. Bahkan karirnya di sepakbola langsung tamat. Kisahnya bermula, saat Chili harus berjuang hidup mati untuk lolos ke Italia. Satu pertandingan tersisa. Sayang lawan yang dihadapi adalah raksasa sepakbola dunia, Brasil.

Asa lolos ke Italia, sebenarnya sudah diretas. Dalam pertandingan pertama di Santiago, Chili, Brasil sukses ditahan imbang. Hingga tiba, tim Chili bertandang ke kandang tim samba yang keramat, Stadion Maracana. Tanggal 3 September 1989, pertandingan digelar.

Babak pertama, Brasil langsung menggebrak. Chili pun tak mau kalah coba mengimbangi. Tapi, satu gol berhasil dilesakan Brasil. Skor pun berubah 1-0 untuk tim Samba. Euforia pun meledak dalam stadion. Pendukung tim tuan rumah mulai berulah, menyalakan kembang api, hingga melempari arah gawang tim Chili yang dikawal Rojas.

Sampai kemudian sebuah kembang api dilemparkan tepat ke arah gawang tim Chili. Lalu meledak. Rojas tiba-tiba terkapar. Ia mengerang dikepung sisa asap kembang api. Pertandingan pun dihentikan sementara.

Rojas tampak berguling-guling seperti menahan sakit. Sang penjaga gawang pun akhirnya ditandu. Kamera televisi pun merekam. Wajah Rojas tampak berdarah-darah.  Kapten tim Chili, Fernando Astengo dengan semangat menyuarakan protes. Ia minta pertandingan tak dilanjutkan.

images1151584 Roberto Rojas 300x209 - Setitik Nila Dalam Belanga Sejarah Piala DuniaSetelah itu, pihak tim nasional Chili secara resmi meminta FIFA, menggelar pertandingan ulang di tempat netral. Awalnya, tampak normal saja. Tapi situasi memanas di Chili. Rakyat Chili marah. Kedutaan Brasil di negara tersebut tidak dilempari.

Namun seminggu kemudian FIFA mengumumkan hal tak terduga. Bukannya mengabulkan untuk menggelar pertandingan ulang di tempat netral, badan sepakbola dunia itu justru memberi kemenangan 2-0 untuk Brasil. Dan meloloskan tim Samba ke Italia. Yang mengagetkan lagi, FIFA menjatuhkan sanksi bagi Rojas, sang penjaga gawang. Kapten tim juga dapat sanksi.

Sanksi yang diberikan cukup menggemparkan. Rojas dilarang berkecimpung dalam dunia sepakbola seumur hidup. Rupanya, FIFA setelah kejadian di Stadion Maracana, melakukan serangkaian penyelidikan. Hasil penyelidikan menemukan fakta mengejutkan, Rojas telah melakukan kecurangan dengan cara melukai diri sendiri.

Yang lebih menggemparkan lagi, aksi itu memang direncanakan bersama dengan kapten tim, Fernando Astengo. Kecurangan pun terbongkar. Rojas ternyata sebelum pertandingan telah menyiapkan pisau cukur yang kemudian ia selipkan di sarung tangannya.  Pisau cukur itulah yang ia goresan sendiri ke wajahnya, hingga berdarah-darah. Tapi sayang, aksinya tak rapi. Rojas pun kena karma menyakitkan, dijauhkan dari sepakbola seumur hidup. Hukuman yang sangat menyakitkan.

- Sponsored -