Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sering sekali disibukkan dengan pelbagai informasi yang disuguhkan oleh media cetak dan elektronik. Dalam keseharian kita sering beredar berita atau informasi yang terkesan melebih-lebihkan atau bahkan seolah didesain untuk menggiring opini pembaca atau pendengar untuk kepentingan tertentu yang mana si penyampai berita (media massa) sudah dikenal sebagai media mainstream di Indonesia.

Tak jarang juga konten berita yang disampaikan memunculkan reaksi sosial di tataran masyarakat luas sehingga timbullah banyak kegaduhan yang dapat memicu adanya perpecahan.

Media yang harusnya menjadi kontrol sosial di masyarakat kini berubah haluan menjadi media penyalur syahwat kaum-kaum kapitalis. Seperti yang di sampaikan Chomsky “Semua media massa telah menyebarkan informasi yang telah mengalami filterisasi dan mereka tidak netral”. Bahkan menurutnya, media informasi terbukti sangat efisien untuk membentuk opini publik.

Berkat perlengkapan media dan propaganda yang mereka lakukan mampu menciptakan atau menghancurkan gerakan sosial, pembenaran perang, kemarahan akibat krisis keuangan yang di dorong arus ideologi lain untuk mewujudkan fenomena media sebagai produsen realitas dalam masyarakat.

Baca Juga  Hanya Karena Kolom Komentar, Perdebatan Pun Bisa Terjadi

Baru-baru ini muncul sebuah artworks atau  gambar ilustrasi dari Jawa Pos Radar Sukabumi edisi 09 Mei 2017 yang menampilkan ilustrasi burung garuda mencabik bendera berlafalkan tauhid. Ilustrasi ini muncul setelah diumumkannya pembubaran Organisasi Masyarakat Hitzbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Menteri Koordinator Hukum Dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto. Hal itu sontak menghebohkan banyak pihak terutama umat muslim di Indonesia. Dimana kalimat tauhid adalah kalimat sakral dan menjadi rukun islam yang pertama.

Artinya, jika kita menganalisis gambar tersebut Radar Sukabumi jelas sekali memiliki maksud tertentu yang secara eksplisit berupaya untuk mendiskreditkan HTI. Mereka kurang berhati-hati dalam mempublikasikan sebuah berita karena bukan HTI saja yang dikucilkan tetapi keseluruhan umat muslim juga akan menerima imbasnya. Karena bagaimanapun kalimat tauhid adalah kalimat suci umat islam.

Keteledoran yang dilakukan media ini jelas-jelas sangat mempengaruhi opini publik dan diindikasikan akan memunculkan adanya polemik baru di masyarakat yang akan berujung pada disintegrasi bangsa. Tentu ini menjadi garapan atau bahan diskusi yang penting bagi banyak pihak agar menjadi pembelajaran bersama untuk tetap menjaga kerukunan dan keutuhan bangsa ini. Dari titik ini pula seharusnya bisa dihasilkan sebuah rumusan penting terkhusus untuk media massa bagaimana bersikap dan berperilaku yang bijak. Sehingga mereka tidak lagi dijadikan alat untuk meraih kepentingan orang-orang yang tak bertanggungjawab dan sangat menginginkan Indonesia ini bubar.

Baca Juga  Hanya Karena Kolom Komentar, Perdebatan Pun Bisa Terjadi

Semakin berkembang pesatnya tekhnologi informasi dan komunikasi  menuntut penggunanya yaitu masyrakat untuk bersikap lebih arif lagi. Berita yang muncul di media tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Dalam kondisi yang seprti itu sisi kecerdasan dan kebijaksanaan masyarakat sangat penting diterapkan.

Pemahaman akan pentingnya 5 unsur komunikasi menjadi kunci dalam menyimpulkan sebuah berita. Propaganda media yang berujung pada adanya disitegrasi bangsa tidak akan pernah  terjadi jika cerdas masyrakatnya. Mulai hari ini, mari bertabayyun, sebarkan virus kebaikan dimulai dari diri sendiri, dan selalu bangun  optimis dan positifisme dalam hidup.

Source : Qureta
- Sponsored -