Sejak hadirnya internet, gaya hidup pun berubah. Hadirnya internet pun memukul telak media konvensional seperti koran atau majalah cetak. Perlahan tapi pasti, koran-koran pun bertumbangan.

Bahkan koran yang sudah berusia ratusan tahun pun tak bisa bertahan. Tumbang dan tutup. Seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Sehingga banyak pengamat media, internet adalah pembunuh media-media konvensional. Atau dalam bahasa kerennya, era internet dan digital adalah era senjakala media cetak.

17408255 302 - Sekali di Udara, Tetap di Udara! Nasib Radio Ditengah Gempuran InternetLalu bagaimana dengan nasib radio, salah satu media elektronik selain televisi? Nah, ada sebuah fakta menarik soal radio di tengah gempuran dahsyat media online. Data yang dilansir Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukan daya tahan radio masih kuat menahan badai internet.

Baca Juga  Lima Wanita ini Percaya Diri Dengan Rambut Anehnya!

Dalam datanya, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, pada tahun 2016, jumlah stasiun radio yang beroperasi di frekuensi FM dan AM, secara kumulatif sebanyak 1.967 radio. Atau naik 12 persen dari lima tahun sebelumnya.

Radio yang beroperasi di jalur frekuensi AM memang menunjukkan penurunan. Tapi tidak untuk radio dengan frekuensi FM. Justru mengalami kenaikan jumlah. Dalam rentang 2012 sampai 2016, jumlah stasiun radio FM yang eksis di udara justru meningkat.

Sementara untuk radio AM, mengalami penurunan. Pada tahun 2012, jumlah radio AM tercatat ada 298 stasiun radio. Tapi sampai akhir tahun 2016, jumlahnya melorot hanya sebanyak 80 radio saja. Beda dengan radio FM. Radio FM, tetap bisa menyuarakan slogansekali di udara, tetap di udara.

Baca Juga  Mau Panjang Umur, Minumlah Kopi!

Meski mengalami penurunan di rentang tahun 2015 sampai 2016, tapi secara keseluruhan dalam lima tahun terakhir masih meningkat. Artinya, para penyiar radio FM, bolehkah masih bisa bernafas lega. Masih bisa bertahan dan berdiri tegak di tengah gempuran media online.

Berbeda dengan wartawan media cetak yang mesti kebat-kebit, karena terus limbung dihajar media online. Banyak yang kemudian ramai-ramai hijrah ke media online. Apa boleh buat, gempuran internet tak bisa ditahan. Untuk radio pun, entah sampai kapan bisa menahan gempuran media online. Namun yang pasti, radio masih bisa berseru lantang, sekali di udara, tetap di udara.

- Sponsored -