Nazar sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah janji pada diri sendiri. Atau hendak berbuat sesuatu jika maksud tercapai. Bahasa lainnya  kaul. Misalnya ia mempunyai nazar kalau anaknya lulus, ia akan mengadakan selamatan.

Bernazar adalah berjanji akan berbuat sesuatu jika maksud tercapai.  Mengucapkan nazar, mempunyai kaul: ia kalau anaknya sembuh, hendak bersedekah. Sederhananya nazar adalah sesuatu yang diniatkan akan dilakukan bila keinginan tercapai.  Ada pula yang menyamakan nazar itu dengan sumpah.

Dalam khazanah sejarah, ada beberapa tokoh yang nazarnya kemudian melegenda. Salah satunya adalah sumpah atau nazar yang diucapkan oleh Mohammad Hatta. Salah satu proklamator Indonesia ini, ketika muda, sempat bernazar, tidak akan menikah dulu jika Indonesia belum merdeka. Dan, Bung Hatta, demikian panggilan akrab sang proklamator itu, memang menunaikan nazarnya. Ia benar-benar tak menikah sampai Indonesia pun kemudian diproklamirkan jadi negara yang merdeka. Negara yang berdaulat, bebas dari segala penjajahan.

Baca Juga  Ini Dia, Menteri yang Berani Menolak Permintaan Presiden

Padahal ketika itu, sebelum Indonesia merdeka,  Hatta sempat dijodohkan dengan seorang gadis bernama Nelly, putri Mak Eteb Ayub, pengusaha Minang. Meski didesak teman dan kerabatnya, untuk segera menikah dengan Nelly, Hatta tetap teguh dengan nazarnya tak akan menikah sampai Indonesia merdeka. Karena nazar itulah Bung Hatta telat menikah.

Mengutip artikel, “Cinta Hatta Bersyarat Merdeka ” yang dimuat di situs Historia.id,  kawan seperjuangannya Soekarno atau Bung Karno yang juga proklamator risau dengan sumpah Hatta.  Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno pun kemudian berinisiatif mencarikan jodoh bagi sahabatnya.

Pilihan pun jatuh pada Rachmi, putri Abdul Rachim, sahabat dekat Bung Karno. Menariknya, Anni, ibu Rachmi, ternyata pernah punya romansa dengan Bung Hatta. Tapi, kisah cinta Anni dan Hatta tak berlanjut hingga pernikahan. Anni yang juga seorang aktivis perempuan, kemudian menikah dengan Abdul Rachim. Dari pernikahan itu, lahir dua putri, Rachmi dan Titi.

Baca Juga  Frans Mendur, Fotografer Penyelamat Jejak Proklamasi

Rachmi itulah pilihan Hatta yang kemudian dipersuntingnya pada 18 November 1945. Hatta dan Rachmi, menikah di  Megamendung, Bogor di sebuah villa. Sebagai mas kawinnya, Hatta memberikan mas kawin yang tak lazim. Bukan perhiasan, bukan pula uang. Tapi yang di berikan Hatta sebagai mas kawin adalah buku yang ditulisnya sendiri saat Hatta dibuang ke ke Digul. Buku berjudul Alam Pikiran Yunani, itulah yang diberikan Hatta sebagai mas kawin.

- Advertisement -