Sejarah tidak hanya berisi cerita tentang tokoh -tokoh besar. Tapi sejarah juga berisikan jejak -jejak dari orang yang kadang tak tercatat di buku-buku sejarah. Di mana pun. Termasuk di Indonesia.

Banyak orang yang namanya tak diabadikan sebagai nama jalan. Banyak orang yang namanya kerap tak disebut di buku -buku sejarah resmi. Padahal, mereka ikut andil mendirikan, merawat, bahkan membela republik, dengan nyawa sebagai taruhannya bro.

Salah satunya seperti yang mau saya kisahkan ini. Dia, Abdul Kadir. Kamu tahu dia? Pasti, 99,9 persen banyak yang tak tahu siapa Abdul Kadir. Dia opsir polisi zaman baheula. Zaman Jepang dan Belanda, masih kurang ajar menjajah negeri kita.

Ya, sebagai opsir polisi, dia memang tak setenar, makanya Jenderal Jasin bapak Brimob kita. Atau seperti Jenderal Hoegeng Imam Santoso, polisi yang dianggap Gus Dur, paling jujur di Indonesia.

Baca Juga  Belajar Sejarah Sambil Berwisata!

Tapi soal jasa, saya kira, Abdul Kadir juga tak kalah hebat. Kisah Abdul Kadir sendiri disinggung sedikit Neta S Pane dalam bukunya, ” Jangan Bosan Kritik Polisi. ”

Dikisahkan, 1 Januari 1947, Belanda melakukan penyerangan ke Kota Palembang. Serangan itu dapat perlawanan sengit dari para pejuang, termasuk para opsir polisi. Salah satu yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Palembang adalah Pembantu Inspektur Polisi I M Yasid.

Tanggal 6 Januari 1947, disepakati gencatan senjata antara Belanda dan pejuang republik. Dalam perundingan gencatan senjata, pihak republik diwakili oleh Residen Dr M Isa dengan didampingi Kepala Kepolisian Keresidenan Palembang Komisaris Moersodo.

Disepakati, seluruh pejuang republik mundur dari kota Palembang sejauh 20 kilometer.  Tapi seluruh anggota polisi masih di izinkan tinggal di dalam kota sebagai penghubung. Nah salah satu perwira polisi yang rajin jadi penghubung itu adalah Inspektur Polisi I Abdul Kadir.

Baca Juga  Belajar Sejarah Sambil Berwisata!

Belanda akhirnya tahu aktivitas Abdul Kadir, lalu memintanya keluar dari kota Palembang.  Pada 24 Desember 1948,  Abdul Kadir meminta ijin kepada atasannya keluar dari Palembang. Ia minta izin, untuk ikut berperang. Bergerilya bersama dengan pejuang republik lainnya.

Akhirnya Abdul Kadir keluar dari Palembang. Ikut dengannya Komandan Mobbrig KKK Palembang, Inspektur Polisi II A Ansjori. Beberapa anak buahnya pun ikut keluar kota. Berbekal 8 senjata Laras panjang sejenis karaben, 7 pistol, 2 peti bahan peledak dan klewang, Abdul Kadir bergerilya bersama pasukannya melawan Belanda. Pasukannya dikenal dengan nama Pasukan 17 Agustus. Beberapa kali mereka menyerang dan bertempur melawan tentara Belanda. Juga melakukan sabotase. Begitu sekelumit kisah Abdul Kadir, opsir polisi pemberani dari Palembang.

- Advertisement -