Uji coba senjata nuklir pada hari ini tanggal 3 September 2017 nampaknya menandai era baru dalam sejarah program senjata nuklir Korea Utara. Berdasarkan analisa hasil rekaman seismik dari uji coba senjata nuklir tersebut, para pengamat menghitung kekuatan ledakan bom yang diuji coba berkisar antara 750 kiloton hingga 1 megaton TNT.

Ditambah dengan berita rilisan KCNA beberapa saat sebelum uji coba dilakukan menampakkan foto Kim Jong Un sedang berada di samping dengan apa yang ditengarai sebagai bom hidrogen sedang dimuat ke cangkang hulu ledak rudal balistik Hwasong-12. Apabila klaim dari KCNA dapat diverifikasi, maka Korut sudah sampai tahap mampu membuat bom hidrogen yang dapat dimuat ke rudal balistik.

Setahun sebelumnya, pada tanggal 9 Januari 2016, Korut melakukan uji coba apa yang diklaim sebagai bom hidrogen. Akan tetapi, berdasarkan pantauan dan analisa hasil seismik yang didapat, kekuatan ledak dari uji coba tersebut jauh di bawah dari kekuatan ledak dari sebuah bom hidrogen pada umumnya.

1012533Ancaman Korut780x390 - Kim Jong Un dan Ambisi Rudal Balistik Nuklir Antar-Benua

8 bulan kemudian, Korut kembali meledakkan senjata nuklir. Akan tetapi, hal ini menimbulkan kekhawatiran para pengamat pertahanan dikarenakan selang waktu antar-uji coba yang menjadi semakin singkat untuk negara seperti korut, sehingga disinyalir bahwa korut pada 2016 berhasil mencapai kemampuan standarisasi dalam produksi hulu ledak nuklir, sehingga proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien.

Era kepemimpinan Kim Jong Un menandai sebuah era baru dalam program riset dan pengembangan program nuklir dan rudal balistik di negara militeristik itu. Pada masa Kim Jong Un, tepatnya mulai pada tahun 2013 hingga 2016, Korut menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan signifikan dalam hal pencapaian level teknologi dan kapasitas industri dalam memproduksi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk keberlangsungan program rudal balistik tersebut.

Dari pembuatan motor roket yang lebih modern teknologinya, program rudal balistik berbasis kapal selam, hingga usaha mengecilkan hulu ledak nuklir agar dapat dimuat ke cangkang hulu ledak dari sebuah rudal balistik.

Tampak perbedaan yang amat signifikan antara Kim Jong Il, sang ayah, dengan sang pemimpin muda sendiri dalam konteks pengelolaan dan penempatan prioritas bagi program nuklir dan rudal balistik Korut. Mendiang sang ayah, Kim Jong Il, tidak menempatkan program nuklir dan rudal balistik sebagai prioritas utama dalam hal pembagian anggaran.

Baca Juga  Kalau Kamu Benci Indonesia, Tinggal di Korut Saja & Rasakan 4 Aturan Ini!

KJI 72th Birthday Anniversary 2014 02 16 03 01 - Kim Jong Un dan Ambisi Rudal Balistik Nuklir Antar-Benua

Politik “Shogun” yang dicanangkan Kim Jong Il sejak pada medio akhir dekade 1990an memprioritaskan sektor militer sebagai tonggak utama dalam pembangunan ekonomi, secara keseluruhan. Sehingga anggaran bagi militer telah tercakup di dalamnya anggaran untuk program riset dan pengembangan teknologi senjata nuklir dan rudal balistik.

Sementara Kim Jong Un sendiri mengambil pendekatan yang berbeda dalam kebijakan pembangunan ekonomi bila dibandingkan dengan mendiang ayahnya. Apabila kebijakan Songun memprioritaskan pembangunan sektor militer secara keseluruhan, maka pada tanggal 31 Maret 2013 Kim Jong Un pada rapat komite pusat tahunan Partai Pekerja Korea menginstruksikan dan mencanangkan program pembangunan ekonomi baru yang dinamai kebijakan “Byungjin”.

Kebijakan “Byungjin” menitikberatkan kepada sektor program nuklir dan rudal balistik sebagai prioritas utama dalam usaha sinergi pembangunan antara sektor ekonomi dan sektor militer. Akibatnya, dalam pelaksanaan kebijakan “Byungjin” program nuklir dan rudal balistik mendapat prioritas tertinggi dalam segi alokasi anggaran negara di atas sektor militer.

Hal ini kontras dengan kebijakan “Songun” ketika program nuklir dan rudal balistik mendapat jatah anggaran sekian persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk sektor militer. Akibatnya, kita bisa melihat pada era Kim Jong Un, program nuklir dan rudal balistik Korut mengalami kemajuan yang sangat pesat atau bisa dibilang mengerikan dibanding ketika mendiang ayahnya masih berkuasa. Diversifikasi jenis mekanisme peledak, diversifikasi tipe rudal balistik, hingga riset dan pengembangan bom hidrogen.

Kim muda juga melakukan usaha-usaha reformasi ekonomi internal, agar ekonomi Korut mampu lebih mandiri dan menurunkan ketergantungan bantuan dari luar negeri. Persoalan ekonomi dan pangan sudah sejak lama menjadi penghalang utama Korut dalam menggeber program nuklir mereka.

thediplomat 2016 03 30 02 14 04 553x360 - Kim Jong Un dan Ambisi Rudal Balistik Nuklir Antar-Benua

Oleh karena itu, sejak kebijakan Byungjin diresmikan pada tahun 2013, Kim muda melakukan reformasi internal di sektor ekonomi agar mampu mengurangi ketergantungan dari bantuan luar negeri, sekaligus menutup kemungkinan bagi negara lain melakukan diplomasi dengan korut dengan iming-iming bantuan ekonomi dan pangan. Hal ini tampaknya berhasil bagi Korut yang sejak saat itu terkesan anteng dalam menggeber program nuklir dan rudal balistiknya.

Baca Juga  Kalau Kamu Benci Indonesia, Tinggal di Korut Saja & Rasakan 4 Aturan Ini!

Dalam rapat rapat komite pusat tahunan Partai Pekerja Korea pada tanggal 31 Maret 2013, selain mencanangkan kebijakan “Byungjin”, Kim Jong Un juga menginstruksikan bahwa Korut “harus meningkatkan produksi hulu ledak nuklir yang cukup kecil untuk dapat muat di rudal balistik, meningkatkan produksi dan kapabilitas rudal balistik, dan berusaha tanpa henti terus mengembangkan teknologi nuklir untuk dapat membuat senjata yang lebih canggih dan mematikan lagi”.

Secara tak langsung, Kim juga mengisyaratkan bahwa rudal balistik antar benua (ICBM) dengan hulu ledak nuklir akan mejadi senjata pamungkas korut dalam menghadapi konfrontasi dengan Amerika Serikat.

Tak dapat disangkal lagi, Kim Jong Un tidak main-main dalam usahanya menggeber program nuklir Korut. Teknologi rudal balistik korut yang semakin presisi dan modern, kemampuan mengerucutkan ukuran hulu ledak nuklir agar dapat dicantel di rudal balistik, hingga rudal balistik Hwasong-14 yang mampu mencapai jarak tempuh hingga 10.000 km, menunjukkan bahwa Kim semakin dekat dengan ambisinya memiliki ICBM yang mampu mengantarkan senjata nuklir ke Amerika Serikat.

Kemampuan mengerucutkan ukuran hulu ledak nuklir juga menjadi persoalan negara-negara tetangga seperti Korsel dan Jepang, dengan asumsi kuat bahwa Korut juga (akan) mampu memasang senjata nuklir ke rudal-rudal jarak pendek mereka juga.

Situasi tidak tampak bagus untuk saat ini dan ke depannya.

Referensi :

  • Assessing North Korea’s Nuclear and Missile Programmes: Implications for Seoul and Washington. (2017). [ebook] Rome, Italy: Istituto Affari Internazionali, pp.3-13.
  • The Chronology of the North Korean Nuclear Program. (2009). North Korean Review, 5(2), pp.99-110.
  •  North Korea Chronology. (2016). [ebook] Northeast Asia Cooperative Security Project.
  • Cordesman, A (2017). North Korean Nuclear Forces and the Threat of Weapons of Mass Destruction in Northeast Asia, [online] pp.34-40.
  • Mary Beth Nikitin, “North Korea’s Nuclear Weapons: Technical Issues”, in CRSReport for Congress, No. RL34256 (3 April 2013)
Source : Qureta
- Advertisement -