Perkembangan dunia digital mendorong para pengusaha di bidang media massa mengikuti ke mana arus konsumen berada. Dalam hal ini, banyak konsumen yang lebih suka mencari informasi lewat gadget-nya. Segala bisa diakses di sana, termasuk informasi terkini seputar berita.

Media tentu tidak ingin terkekang oleh idealisme, hanya terpaku pada media cetak yang mereka punya. Mereka juga ingin berinovasi, mengikuti jaman agar tidak kehilangan pembacanya. Maka, di era digital ini, banyak media cetak yang membangun portal web tanpa harus mematikan media cetak yang mereka punya.

koran - Hanya Karena Kolom Komentar, Perdebatan Pun Bisa Terjadi

Walaupun peminat media cetak berangsur-angsur berkurang, tetapi peminatnya belum kehilangan semua pembacanya. Masih ada sekelompok orang, terutama generasi Y yang menemukan kenyamanan dalam memperoleh informasi dari media cetak.

Ada sebagian orang yang lebih nyaman membaca koran dan majalah dari pada harus membuka website atau memperoleh berita dari linimasa media sosial. Itu sama halnya seperti penikmat buku yang masih bertahan dari lonjakan peminat e-book. Karena, media cetak punya sensasi yang tidak dimiliki dalam media digital.

Misalnya, bagaimana buku bisa disentuh, bisa dibolak-balik dengan tangan, memberi batas halaman, melipat, dan itu jadi kelumrahan yang sebetulnya jadi sensasi tersendiri bagi seorang pembaca.

Ada satu hal yang kontradiktif dari bagaimana seseorang memperoleh berita dari media cetak dibandingkan dengan media digital. Yakni, soal keterlibatan pembaca dalam mengomentari isi berita. Ketika seseorang membaca berita di koran, mereka lantas hanya bisa membaca tanpa perlu menulis komentar.

yay 6809420 640x425 - Hanya Karena Kolom Komentar, Perdebatan Pun Bisa Terjadi

Berbeda dengan berita di sebuah portal web atau linimasa. Di sana disediakan kolom komentar yang bisa diisi dengan apa saja dalam rangka menanggapi isi berita. Bahkan, disediakan tombol ‘balas’ agar orang lain yang melihat sebuah komentar bisa menanggapi ulang komentarnya. Tentu, ini menjadi nilai lebih dari media digital.

Baca Juga  Propaganda Media Dan Disintegrasi Bangsa

Namun, kelebihan ini yang sebetulnya akan mengantarkan pada keburukan. Kolom komentar memang dibuat untuk memberikan kebebasan bersuara terhadap sebuah berita. Akan tetapi, banyak orang atau pengguna internet yang kebablasan. Mereka berkomentar tanpa etika dan menggunakan bahasa atau kalimat yang menimbulkan provokasi atau SARA.

Peliknya, banyak pihak media menuliskan sebuah catatan yang mengatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas semua komentar yang telah dipublikasikan. Itu artinya, semua orang yang menulis pada kolom komentar adalah tanggung jawab orang yang menulisnya.

Ini seakan menjabarkan bahwa media seakan cuci tangan dari resiko buruk dari berita telah dimuat. Terlebih jika sebuah berita menyangkut hal yang sensitif. Media sepertinya memperbolehkan dan membiarkan keributan, saling hujat, provokasi dan SARA pada setiap komentar. Jarang ada media yang sengaja mem-filter setiap komentar yang masuk.

Banyak sekali netizen berkomentar seenak udel-nya tanpa tahu risiko dari apa yang mereka tulis. Bahwa ada banyak perdebatan yang sia-sia dari setiap komentar yang ada. Alih-alih memberikan kebebasan bersuara di dunia maya, penyediaan komentar malah banyak digunakan untuk memancing perdebatan baru.

wbdf9 - Hanya Karena Kolom Komentar, Perdebatan Pun Bisa Terjadi

Hal itu tidak akan ada ujungnya karena setiap orang yang berani berkomentar selalu memposisikan diri mereka sebagai pihak yang paling benar. Akhirnya, pertengkaran di kolom komentar tidak akan ada ujungnya sampai salah satu di antara mereka diam. Pertanyaan, siapakah yang akan legowo dan menyudahi debat kusir itu?

Di saat riuhnya perdebatan di kolom komentar, saya berpikir, kenapa tidak mengusulkan agar kolom komentar dalam beberapa berita yang sensitif ditiadakan saja? Kalau pun tidak, media harus berani bertindak jika ada komentar yang tidak etis. Sebab, tidak ada asap kalau tidak ada api. Media yang melempar isu harus berani terlibat dan ikut bertanggung jawab dalam setiap komentar yang bebas dipublikasikan.

Baca Juga  Propaganda Media Dan Disintegrasi Bangsa

Kita tidak bisa seratus persen melimpahkan kesalahan pada media. Tetapi, mereka yang terlanjur suka berkomentar sulit untuk dihentikan. Maka, bisa jadi langkah efektif jika media yang punya kewenangan bisa membendung perdebatan agar setiap orang bisa sejenak menghentikan argumen mereka yang sesungguhnya akan menimbulkan perang di kolom komentar.

Mungkin beberapa pihak media bisa membentuk tim sendiri, menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya membuat berita, tapi harus memikirkan ke depannya. Kira-kira, setelah suatu berita kontroversional dimuat, apakah media pernah memikirkan bahwa akan ada ribuan komentar yang berpotensi malah mericuhkan suasana di jagat maya?

Kita sudah jengah, malas melihat berdebatan di media sosial. Kita sadar bahwa hanya dengan sebuah kolom komentar, permusuhan dan segala bentuk intoleransi bisa tersosialisikan dengan gencar. Betapa ajaibnya, hingga saya berpikir kenapa kita tidak kembali ke media cetak?

Membaca berita dalam sunyi tanpa harus membaca setiap komentar, tanpa harus merasa panas kepala atau perang urat syaraf karena melihat argumen orang lain yang tak pernah sependapat dengan kita. Apa manusia digital mau melakukannya?

Sekarang, perlukah kita sejenak menghiraukan apa yang disebut ‘kebebasan perpendapat’ dan mematikan kolom komentar untuk setidaknya mengurangi perdebatan yang sia-sia? Apa mungkin perdebatan di kolom komentar bisa dimulai dari diri kita sendiri dengan menyudahi pertengkaran atau tidak menanggapi setiap komentar? Jika tidak, kembali ke media cetak bisa jadi opsi yang terbaik untuk sementara.

- Sponsored -