Ngopi. Itu yang akan saya bahas. Bukan kopi itu sendiri. Ini lebih ke kotak kecil dalam pikiran kita tentang aktivitas ngopi. Entah, apakah akan benar-benar saya bahas atau hanya pura-pura saya bahas.

Saya seorang aktivis. Sebut saja begitu. Sudah dipastikan, ajakan ngopi bukan hanya sering, bahkan hampir lima kali sehari. Ajakan itu datang dari berbagai elemen aktivis. Dari aktivis lingkungan, hukum, pendidikan hingga aktivis lepas.

Beberapa menit sebelum berangkat ngopi, sudah ada satu bayangan yang tiba-tiba terkotak tercetak sedikit jelas di kepala, di sana kita akan berbincang, berbincang apa pun, benar-benar soal apa pun. Dari soal-soal politik hingga kunci jawabannya, sambil minum kopi–meski kadang, ada yang ngopi sambil minum teh, jus dan lain-lain.

Berbincang apa pun. Itulah sebenarnya fantasi ngopi. Iya, tak ada aturan baku bagi siapapun di sebuah warung kopi untuk berbicara banyak-banyak. Dari yang paling positif hingga yang paling negatif. Di sini, meski saya sering berpikir positif akan berbicara hal-hal positif di warung kopi, siapa yang akan peduli andai saat itu pula saya akan beralih berpikir negatif dan akan berbincang hal-hal yang tiba-tiba paling negatif.

Dari sejak masuk warung kopi, kita benar-benar bebas. Memilih menu apapun secara bebas dengan uang kita. Untuk memilih menu pembicaraan pun tentu bebas sebagaimana bukan urusan siapa-siapa.

Saat secangkir kopi datang, tak ada pra-syarat selain nanti setelah selesai, kita harus bayar, tentu dengan uang. Urusan dengan kopi pun terkedang hanya soal uang, soal berapa kita akan bayar kopi yang kita minum. Meski di mana pun begitu, tetapi tidak ada siapa pun pula yang benar-benar berhak melarang orang-orang datang ke warung kopi untuk berbicara uang; suap, korupsi dan seterusnya.

Seorang teman bertutur, seseorang bisa saja, benar-benar bisa tanpa berpura-pura bisa untuk merancang aksi korupsi, membunuh, mencuri, merusak dan merampas, menggusur di warung kopi. Siapa yang dapat melarangnya? Siapa pula yang lebih berhak melarangnya?

Tidak ada siapa pun yang berhak karena tak ada sarat sebelum meminum kopi untuk memakai rompi positif dulu, dan seterusnya, tak ada sarat bagi siapa pun untuk berbicara, merencanakan apapun karena ajakan ngopi bukan ajakan salat. Tentu, ajakan ngopi bukan seterusnya selalu dianggap ajakan baik yang mulus.

Baca Juga  Petakan Visimu, Buat Visualisasinya!

Akhir-akhir ini, tentu semakin tak dapat dihitung jumlah tempat ngopi baru dengan tanpa mengurangi jumlah warung kopi yang lama. Coba dihitung sendiri. Saya pun tentu tak perlu curiga semakin banyaknya koruptor yang menggunakan warung kopi untuk berbicara korupsi.

Tetapi saya yakin, perluasan tempat untuk berbicara banyak hal dengan bebas ialah mesti bertambah seiring bertambahnya tempat ngopi. Untuk berbicara rencana korupsi pun benar-benar tidak ada yang tahu dan tidak ada yang melarang seluas dan seiring tempat ngopi yang terus-bertambah.

Di sini, seolah tiada yang positif di dalam aktifitas ngopi. Itu pun jika kita sendiri memang mengarah tidak ke hal yang positif.

Masuk ke warung kopi, bukan berarti kita masuk ke suatu dunia yang benar-benar lain dari yang sehari-hari kita alami. Di warung kopi pun jangan lupa, kita masih di dunia yang benar-benar masih di dunia yang sebagaimana mestinya, yang masih dibayang-bayangin oleh hukum dan seterusnya.

Di warung kopi pun masih sama, untuk menjadi baik atau menjadi buruk, itu masih urusan masing-masing, dan bukan urusan siapa-siapa sebagaimana mestinya. Termasuk berbicara apapun, itu masih kebebasan masing-masing.

Di titik ini, saya pun meragukan, dan harus saya kemas keraguan saya dengan sebuah pertanyaan; siapakah yang datang ke warung kopi merasa lebih baik setelah ke luarnya? Sebab itu, ngopi tidak selalu dan terus-menerus bermakna positif. Kadangkala, ada urusan-urusan negatif yang dikemas dengan aktivitas ngopi dan tentu, bukan urusan siapa-siapa.

Bagi sebagian teman saya, masuk warung kopi itu membuatnya lupa dunia yang masih saja dibayang-bayangi oleh dosa dan pahala. Bukan sebab kopi itu sendiri, tetapi sebab kebebasan yang dipikirnya mutlak datang. Fantasi tadi. Katanya, warung kopi benar-benar dunia lain sebab di sana kebebasan berpikir muncul dengan benar-benar bebas di secangkir kopi.

Pernyataan yang berlebihan ini, tentu, siapa yang peduli dan siapa pula yang akan menegurnya. Siapa pula yang pantas mengatur bicaranya yang porno, jorok, busuk dan seterusnya, atau bicaranya yang alim, positif, paling positif dan seakan tiada lagi yang bisa lebih positif di sebuah warung kopi.

Baca Juga  Fact, Semua Orang Ingin Menjadi Keren Ketimbang Baik!

Di warung kopi, saya atau barangkali siapa pun lupa bahwa masih ada bayang-bayang dosa, pahala, nilai dan norma sosial yang mesti kita taati. Bukan kemudian lepas selepas-lepasnya. Tetapi, siapa pula yang akan melarang seseorang berbuat jahat sejak dalam pikirnya di warung kopi, sedangkan di dunia yang benar-benar berundang-undang agama dan negara pun siapa pun seakan-akan biasa melanggar.

Lalu, dengan alasan apa, warung kopi mesti mengambil tempat positif di pergolakan pikir manusia pencinta kopi, selain soal kebebasan untuk memeluk dua hal; dosa atau pahala pun bukan apa-apa dan siapa pun berhak dengan bebas memilihnya tanpa ada yang meminta dan menegurnya.

Bermetaforsisnya warung kopi menjadi kafe, meminjam bahasa M Faizi, menunjuk satu realitas semakin elitnya momen ngobrol bebas di tempat tersebut. Bukan semata-mata soal perkembangan olahan kopi. Tak ayal, setelahnya, banyak manusia yang berbicara hal yang lebih elit meski tidak betul-betul elite sebab elitisitasnya tempat ngopi.

Kebebasannya pun akan tambah elite. Semakin elite pula mode-mode ketidakpedulian untuk sekedar mengingatkan apalagi menegur. Tapi, siapa yang peduli sebab di dunia yang bebas, dengan kopi di tangan masing-masing, dengan tepat duduk dan kursi masing-masing, setiap orang tiba-tiba tahu bahwa segala hal memang dan seakan selalu memang menjadi urusan masing-masing.

Tak ada yang dapat ditebus dari adegan-adegan pikir bebas saat di warung kopi selain segalanya adalah urusan masing-masing dan ketidakpedulian adalah pedoman masing-masing.

Setelah itu dan seterusnya, boleh saja, ngopi adalah penjara candu yang positif, yang apabila seseorang tidak ngopi se hari saja, pikirannya tiba-tiba menjadi bangsat atau bisa saja menjadi candu negatif yang apabila tidak ngopi sehari saja, pikirannya tiba-tiba lugu dan alim.

Sebab, segala hal adalah urusan masing-masing, kebaikan pun harus dimulai dengan diri masing-masing. Pada kopi adalah soal kita yang benar-benar tidak dapat menuntutnya memperbaiki segala pola pikir kita. Lain kopi, lain kursi, lain pikiran, dan lain menu pembicaraan. Volume nilainya ada di tangan dan pikir kita masing-masing.

Ngopi, belum menjamin kebaikan segala hal sebab keteledoran bisa muncul bahkan di warung kopi, saat sedang asyik-asyiknya ngopi.

- Advertisement -